Menikah pada awalnya hanya sebuah kata yang tersimpan entah dihalaman berapa dalam kamus kehidupan saya. beberapa kali rekan menanyakan bahkan menegur saya untuk segera menikah (pada saat itu usia saya 25 tahun), namun untuk saya, saat itu, hal tersebut bukan sesuatu hal yang penting.
lalu hingga akhirnya, diskusi panjang saya dengan seorang teman, yang selama ini hanya saya kenal dari teman yang lain, membawa saya pada satu kesimpulan: Kami punya Visi dan Misi kehidupan.
Visi misi ini bukan didasari atas hasrat "Cinta" antar sepasang sejoli, bukan atas dasar kekaguman atas tampilan satu sama lain. Pada saat itu yang benar-benar menyatukan adalah Visi dan Misi. Hingga 2 minggu setelahnya, barulah Allah membuka pintu hati kami. Langkah-langkah yang pasti membuat kami berjalan dengan Logika, sedangkan Rasa itu mengikuti dengan sendirinya..
Banyak yang heran?! sudah pasti. Lha wong kami juga Heran...
dan inilah kami sakarang, Keluarga yang terbentuk dari Visi Misi yang sama, Cinta yang tumbuh perlahan dan tak menggebu-gebu, Tuhan yang mengikat erat Hati kami, dan sang buah Hati yang kini makin mengeratkan kami..
Inilah awal cerita saya, tentang Keluarga yang masih berupa benih, yang baru saja ditanam, masih perlu dipupuk, hingga nantinya bertunas dan tumbuh menjadi pohon yang rindang, yang dapat menyejukan orang-orang disekitar kami.